“Assalamualikaum,” kata seorang bapak yang sedang bergegas masuk kelas kelas. “Waalaikumsalam,”
jawab kita di dalam kelas. Dosen berbaju batik hitam itu duduk dan meletakkan
tasnya di atas meja. Beliau itulah Bapak N. Faqih Syarif, yang dulunya dikenal dengan
berbicara gagap akan tetapi sekarang beliau merupakan spiritual
motivator yang sangat
handal dan menginspirasikan sekali. Penulis
buku al-Qu wwah
ar-Ruhiyyah itu langsung mengambil laptop dalam tas. “Bisa
LCD-nya ya mas?” tanyanya kepadaku. Mendengar pertanyaan itu, saya
beranjak dari kursi untuk menekan tombol LCD yang berada di atas itu. “Insya
Allah sudah bisa Ustadz,” Jawabku. Saya pun kembali ke tempat duduk semula. Beliau duduk di kursi dosen, depan mahasiswa. Pada kuliah
siang ini, beliau akan menjelaskan tentang “TOT-OUTBOUND TRAINING.”
Menurutnya, materi ini penting, karena jika kita nanti lulus kulia, kita tidak hanya
pandai dalam beretorika atau public speaking, tetapi juga mampu dalam mendirikan
lembaga training. Trainer yang baik hati itu ingin memberikan
pengetahuan dan pengalamannya untuk untuk menginspirasi banyak orang melalui
pelatihan-pelatihan.
Ekspresi beliau saat menjelaskan
kepada seisi kelas
“Pengetahuan yang sederhana harus diolah
oleh para aktivis dakwah,” katanya sambil menjelaskan dengan bahasa isyarat
melalui tangannya. Menurutnya, seorang da’i itu harus inovatif. Dakwah tak
hanya dilakukan melalui mimbar, tetapi juga melalui pelatihan-pelatihan. “Jika
anda memiliki ide yang kreatif, oh anda bisa menjalar kemana-mana. Ada banyak
cerita yang anda akan ungkapkan” jelasnya. Menurutnya, anak yang
kreatif menyampaikan dengan penjelasan yang luas serta ada banyak cerita yang
ia sampaikan.
Sebelum menjelaskan “OUTBOND TRAINING,”
Beliau memberikan semangat kepada mahasiswa tentang kehidupan dan bangkit dari
keterpurukan. Dibacakanlah isislide dalam laptop, sabagaimana yang
juga bisa dilihat di dinding depan “Yang kekal di dunia ini adalah
PERUBAHAN, dan yang pasti adalah KETIDAKPASTIAN.” Begitulah kata-kata mutiara
pembangkit semangat mengungkapkan.
Menurutnya, kita hidup di dunia ini harus
siap menghadapi perubahan dan ketidak-pastian. “Ada sepotong rokok bilang
begini, “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan,” ungkapnya dengan
senyuman manis pada mahasiswa. Beliau menambahkan, bahwa mati itu pasti, tapi
bagaimana persiapan untuk menghadap kepada Allah SWT. Menurutnya, banyak orang
lupa bahwa yang pasti adalah ketidakpastian. Sehingga perubahan adalah sebuah
keniscayaan. Setiap orang pasti berubah, baik ke arah positif maupun ke arah
negatif.
Beliau melanjutkan membaca kata-kata
mutiara di laptopnya, dan mahasiswa mendengarkan sambil melihat slideyang
tertera pada dinding di depannya, “Jika Anda setuju Anda, maka Anda memiliki
persepsi yang sama dengan kami. Setiap Kita tak mampu membendung PERUBAHAN,
karena PERUBAHAN bergerak sekencang perputaran waktu. Masalahnya kemana Anda
berubah, bisakah Anda kendalikan KETIDAKPASTIAN dan bisakah Anda dengan
perubahan yang terjadi.”
“Ada kata kunci di situ,” katanya
sambil mengambil dua buah Spidol di tas. Beliau pun berdiri dari duduknya dan
menulis di papan sebelah kanan kata “PERUBAHAN dan KETIDAKPASTIAN” dengan
spidol berwarna hitam. Menurutnya, jika orang tidak siap menghadapi dua hal
itu, maka bersiap-siaplah mereka untuk menjadi orang yang stress. Beliau
menambahkan bahwa orang yang lulus dari perguruan tinggi belum tentu menjadi
orang yang sukses. “Tidak mesti anaknya kiai menjadi kiai,” tambahnya.
“Perubahan adalah sebuah keniscayaan,”
katanya sambil menulis kata “Move on” di papan tulis sebelah kanan.
Hingga semestar enam saja, masih ada mahasiswa yang belum memiliki visi hidup
jelas. “Gak tau pak, gak jelas aku pak. iki kuliah dadi opo, gak jelas,”
ungkapnya sambil menirukan mahasiswa yang masih belum memiliki tujuan hidup
jelas. Mahasiswa pun menyambutnya dengan tertawa yang berbahak-bahak.
Menurutnya, manusia harus siap untuk menghadapi ketidakpastiaan.
“Ketika PERUBAHAN dan
KETIDAKPASTIAN adalah keseharian, maka tidak ada pilihan bagi kita
kecuali untuk membangun KEYAKINAN dan KESEMPURNAAN. KEYAKINAN adalah mengambil
keputusan. KESEMPURNAAN adalah mewujudkan harapan,” begitulah
kata-kata mutiara yang beliau baca di laptopnya.
Menurutnya, ada dua kata kunci lagi. Beliau
beranjak dari tempat duduknya dan menulis di papan kata, “KEYAKINAN dan
KESEMPURNAAN” dengan Spidol berwarna Biru. Beliau pun menambahkan bahwa, yakin
itu memiliki nilai satu serta tidak yakin mendapat nilai nol. Berapa pun
tindakan yang kita lakukan, jika tidak yakin, tinggal dikalikan nol saja, maka
hasilnya adalah nol. “Tetapi jika Anda memiliki keyakinan, tinggal dikalikan
satu. 3 kali, 7 kali, 8 kali, dan seterusnya,” jelasnya yang membuat
mahasiswa tercengang.
“Move on, mesti ya apa ndak,”
tanyanya kepada mahasiswa. “Ya,” jawab mahasiswa dengan serentak.
Menurutnya, tinggal kita berani apa tidak kepada Move ontersebut.
Beliau pun menulis kata, “VISION, ACTION, PASSION, COLLABORATION” di
papan sebelah kanan. Untuk mengaplikasikan itu semua butuh keyakinan.
Menurutnya, jika kita tidak memiliki keyakinan untuk meraih cita-cita,
tidak akan ada semangat. “Kuliah klawas, klewes. Mau ngangkat sepatu aja
tidak semangat,” ungkapnya sambil menirukan mahasiswa yang tidak semangat
kuliah. Mahasiswa pun ketawa. Menurutnya, berapa pun tindakan yang kita
lakukan, kalau tidak yakin, tidak akan mendapatkan hasil.
“Anda ngomong, tetapi tidak punya
Vission. Ndak punya visi akhirat. Maka action-nya tidak jelas,”
katanya sambil menunjuk dengan tangan kiri pada kata “VISSION” di papan
sebelah kanan. Beliau memberikan perumpamaan seperti orang jika tidak mempunyai
visi, dia naik bersama temannya ke lantai dua puluh, ternyata salah lantai. “Apa
yang terjadi sia-sia pa ndak?,” tanyanya kepada mahaiswa. Orang yang
tidak memiliki PASSION, maka tindakannya ngawur. Kelihatannya super
sibuk, tetapi tidak ada manfaatnya. Beliau menyarakan kepada kita untuk
intropeksi diri, apakah kita pernah melakukan tindakan yang kelihatannya super
sibuk, tapi tidak produkif.
“Anda semester enam ini, seharusnya
sudah bisa membangun keyakinan dan membangun kesempurnaan,” katanya kepada
mahasiswa. Menurutnya, ujian bagi mahasiswa yang akan menjelang wisuda ini,
semakin loyo dan tidak bersemangat. “Semakin mbulet ae,” sambil
menggirukan Spidol dari atas ke bawah yang dipegang oleh tangan kanan. Jika hal
itu yang terjadi, maka ketika semester tujuh dan delapan, kita akan semakin
menunda-nunda waktu untuk meraih kesuksesan.
“Khusus bagi yang cewek, kalau sudah
semester tujuh, kakau ada yang ngelamar terima saja,” katanya, yang
disambut ketawa oleh mahasiswi. Beliau menyarankan untuk tidak menunggu S1 atau
S2. Hal itu itu berakibat bagi yang mau melamar akan tidak enak sendiri dan
takut. Sebab menurutnya, pria akan takut melamar wanita yang sudah lebih tinggi
pendidikan atau karirnya. Sebelum tinggi, mahasiswi beliau sarankan untuk tidak
menunggu pendidikan atau karir tinggi untuk menerima lamaran atau nikah. “Syukur-syukur
yang memberimu biaya kuliah, S1, S2, S3, ya bojomu,” katanya yang membuat
mahasiswa mengatakan “amin” dan ketawa secara bersamaan. Menurutnya, hal itu
beda dengan laki-laki, yang seharusnya semester enam sudah bisa bekerja. Sebab
mereka memiliki tanggung jawab yang besar. Banyak sekali kata-kata yang di
utarkan beliau sangat menginspirasi. Yang utama yakni
Begitulah kuliah Pak Faqih yang sangat
inspiratif bagi kita. Kuliah yang santai tapi pasti. Ada saatnya dimana kita
harus serius, dan dimana pula kita harus santai dan bergurau agar suasana
perkuliahan tidak meneganggkan. Tak hanya duduk, beliau pun berdiri dalam
menyampaikan materi kepada mahasiswa. Penjelasannya enak yang selalu diiringi
dengan bahasa isyarat tangan, sehingga membuat mahasiswa tertegun dan senang
dengan kuliahnya.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan komen dan kritik saran untuk pembelajaran