Kususuri
jalanan gang-gang sempit kota Surabaya yang terletak tepat sekali dibelakang
kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. Jalan dan terus berjalan, pandangan mata pun
fokus hanya kedepan agar tak tertabrak atau tersandung batu saat kuberjalan.
Pada saat itu say ditemani teman karib yang mengenakan kerudung merah polos.
Disetiap
jalanan kami saling bercanda tawa dan tak lupa beberapa kali kita saling fokus
ke depan. Samping jalan yang terdapat selokan yang penuh dengan air akibat
pencemaran air sisa sabun mandi dan lain sebagainnya. Jikalau disaat hujan
lebat, jalanan ini sering mengalami kebanjiran kira-kira setinggi 20cm. dengan
cuaca yang tidak sedekit bersahabat ini akhirnya menumpahkan keinginannya untuk
membasai wilayah Surabaya dan sekitar. Hujan yang sedikit tak terkendali,
awalnya deras mendadak berhenti sementara dan tiba-tiba hujan lebat sekali.
Seketika saja kamipun berlari menuju ke gang dosen yang dimana kudapati gang
ini sepi dibanding hari-hari biasanya yang penuh dengan mahasisiswa berangkat
ke kampus. Pikirku:”mungkin hujan ini membuat mahasiswa lainnya untuk
mengurungkan niatnya untuk berangkat ke kampus”. Kuterus melaju dan melaju
meskipun banyak genangan air dijalan yang membuat jalanan becek.
Ketika saatku samping fakultas dakwah
dan ilmu komunikasi, langkahku pun terhenti sejenak ketika
melihat temanku tas yang di topangnya ditarik oleh seorang gadis yang memakai baju
bunga-bunga berwarna pink.”udah sembuh nit? Katanya tadi pean sakit”. tanyaku kepadanya sambil melanjutkan lajuku ke kelas. “Alhamdulillah, do’akan saja”. ungkapnya. Kamipun terus melanjutkan
laju kita menaiki tangga demi tangga hingga sampai di depan ruang kelas D1.211. Sesampai di ujung pintu kelas kudapati kelas yang masih kosong dan gelap
gulita. Penyinaran cahaya dari luar tidak mendukung karena cuaca hujan saat
ini. Lampu yang tadinya gelap menjadi nyala karena di nyalakan oleh seorang
teman saya yang memakai kerudung merah. Lalu kami duduk di deretan nomer dua
dari belakang. Kelas ini sekarang mulai diterangi 5 buah lampu neon karena 5
buah lampu neon ini sudah berfungsi semua, tidak seperti sebelumnya. Lampu
neonnya hanya menyala 4 saja dan juga dibantu cahaya dari luar. Pada saat itu
cuacanya mendukung. Kalau disbanding sekarang , cuaca tidak mendukung pun tak
bermasalah karena 5 lampu neon itu sudah nyala semua.
Nitra seorang temen saya yang berkerudung merahpun mengeluarkan sebungkus roti dari dalam tas hitam berpadu dengan abu-abu kesayangannya, lalu dia memotong dan membagikan potongan roti yang lain kepada teman-teman. “Ini Fis, ini Mbak buat
pean (sambil menyodorkan roti coklat itu). Sepotong berdua aja, kebanyakan
kalau porsiku”, Ungkapku kepada gadis berbaju kuning. Tanpa berfikir lama, lalu kupotong roti itu separu lalu kubagikan
setengahnnya kepada gadis yang
berhidung pesekpun. Kami memakannya sambil bersenda gurau dengan menunggu dosen yang belum hadir untuk
masuk kedalam kelas. Ku lihat jam di HPku nyatanya jam masih menunjukkan pukul
12.15 “pantas saja beliau belum hadir, orang masih jam segini” batinku.
Silam beberapa menit, dosen berkacamata memasuki
ruangan dengan menatap 5 mahasiswa yang berada di dalam kelas. Dengan beranjak ke tempat duduknya beliau
berkata “Assalamu’alaikum ... Farid sini, mana nomer ayahmu? saya mau telefon ayahmu”. Ungkapnya kepada Pria berjaket abu-abu
tersebut. berjalan pria berpakaian agak kurang rapi itu menghampiri Prof Ali dengan langkah sedikit gugup dan takut. “Ini pak, (sambil memberikan
handphone kepada dosen Teknik Khitobah II) nyatanya nomor sang ayah pria tersebut tidak
bisa di hubungi, sehingga telefon di alihkan kepada ibunya.
Teleponpun terhubung di nomor ibunya, “Assalamu’alaikum Wr. Wb, bu ini saya Moh. Ali Aziz dosen dari putra ibu.
(agak tersandat telponnya, mungkin karena efek sinyal kurang bersahabat) Anak
ibu ini cerdas, tapi dia tidak pernah mengumpulkan tugasnya. Setiap mengikuti
mata kuliah saya ini, dia tidak lulus. Minta tolong sya bu,…jika waktunya kuliah dan ibu ingatkan suruh
berangkat”. Ungkap dosen berwibawa
tersebut kepada ibunya si pria yang menyelonjorkan tubuhnya seraya ingin
menangis itu. “Maaf pak, Farid kalau di rumah suka tidur, ketika ditanya ada kulia apa tidak jawabnya tidak ada
kuliah. Tugasnya apa saja pak?”, Tanya wali dari mas Miftah Farid. “Banyak sekali bu tugasnya,
teman-teman yang lain saja sudah pada
rajin mengumpulkan tugas. Saya ingin tahu apa
permasalahannya. Mungkin sehari atau dua hari izinkan Farid tidur di kos
temannya untuk belajar bersama, kasihan putra ibu, teman-temannya sudah lulus
tapi anak ibu belum. Saat itupun laki-laki bertas hitam menundukkan kepalanya
di atas meja.
Dosen yang bijak sekali ini berseru keoada
laki-laki tersebut ”Rid, kamu berapa kali tidak masuk kelas?” jawabnya: “3x Prof”, dengan suara lirih. Beliau
pun menasehati dengan genggaman tangan memegang HP yang telepon itu masih
terhubung di ibu si laki-laki bersepatu abu-abu itu “Kamu kan sudah tau peraturan
di perkuliaan saya ini dan perjanjiannya jika 3x tidak hadir, maka harus
mengundurkan diri dari matakuliah saya ini.” Kemudian melanjutkan
perbincangannya dengan ibunya laki-laki itu tersebut yang sedang menundukkan
kepalanya ke bawah: “ Bu, sudahlah Farid ini juga anak saya, masalah absen saya
maafkan tetapi untuk tugas harus di kumpulkan”. Tiba-tiba telfon itu terhenti
dengan sendirinya. Pria pembawa buku hijau itupun berkata: “pulsanya habis pak!”
sembari membawah hpnya dia kembali ke tempat duduknya dengan rasa
penyesalan. “Hee... Kalian ini jangan diam saja, tapi tulis apa yang sudah saya bicarakan tadi!! jika Imajinasi dan ingatan lemah, maka dari itu bulpoin tidak boleh berhenti,
amati dengan seksama dan perhatikan
seisi ruangan ini. Gambarkan bagaimana ?”. Perintah dosen yang super tersebut dengan membuka
absen.
Tanyalah
beliau kepada mahasiswa didalam kelas yang berukuran 6x6 meter; “Sudah kuliah
ke Pak Faqih?” jawab anak-anak dengan serempak “belum bapak”. “Sudah ada yang ikut ke
radio belum?”. “giliran bapak ke radionya” jawab Diana
dari bangku belakang. Di meja dosen terlihat tumpukan tiga buku, kupandangi dari jarak sekitar 4 meter dari tempat dudukku. Akupun mencoba membaca apa judul buku itu. Tapi nyatanya tidak bisa terbaca judul bukunya. Akupun masih penasaran judul dan isi buku itu, ku pertajam lagi
pandanganku, tapi tetap tidak bisa terbaca. Suasana kelas ini sangat bersahabat
meskipun hanya terisi 12 mahasiswa saja yang sudah datang. Profesor bersabuk
hitam menyerahkan absen kepada teman
saya berkerudung hitam yaitu Ratu. “Saya sudah membaca tulisan
kalian. Tulisan kalian semakin bagus, tepuk tangan untuk kalian semua”. “Prof, tulisan saya di
kritik oleh pembaca
, celetuk Syamsuriyanto. “Tidak apa-apa, di kritik itu hal biasa, bersyukurlah saja. Karena sudah ada yang mau membaca tulisanmu”, jawab motivator berkemeja putih garis.
, celetuk Syamsuriyanto. “Tidak apa-apa, di kritik itu hal biasa, bersyukurlah saja. Karena sudah ada yang mau membaca tulisanmu”, jawab motivator berkemeja putih garis.
Pada saat beliau akan menjelaskan, dengan mengambil salah satu buku
di antara tumpukan tiga buku yang lain. “Ada buku menarik karya John Kralik, judulnya: 365 Thank You The
Year The Simple Act Of Daily Gratitude Changed My Life”. (Seraya sambil menulis judul buku itu di papan dan mengejanya berulang-ulang). 

Setelah itu dosen ber
pakaiaan rapi itu tersebut berjalan mendekat ke bangku pertama dengan
tersenyum. Dan bercakap lagi “Dalam buku ini menjelaskan bagaimana penulis yang
sukses karena setiap harinya selau menulis ucapan terima kasih kepada orang
yang berjasa kepadanya”. “Fajriyah, ayo coba bacakan judulnya”. sambil membuka halaman depan dan menunjukkan menunjukkan buku tersebut. Ria pun menjawab dengan suara pelan dengan ragu-ragu karena takut salah dengan bacaannya. Tapi prof juga membenarkan bacaan fajriyah yang
salah di ucapkan.
“Grek,….Grek,…Grek….,” bunyi pintu terbuka dengan segrombol anak
masuk kedalam kelas. Prof Ali pun terhenti sejenak ketika menjelaskan isi buku yang sedang di bawahnya dan melihat secara refleks pusat suara itu menuju ke pintu tersebut. Ternyata anak-anak yang telat datang
memasuki kelas dengan berbagai alasan menghujaninya. Hakim,
Handika, Faizin Hisyam dan Irfan karena merka itu yang datang melewati dari batas waktu
yang sudah
telah kita sepakati bersama. “Kenapa terlambat?” tanyanya seorang yang berambut hidan dan
bercampur putih karena sudah tua kepada
mereka
yang terlambat memasuki kelas. Mereka pun
masuk dengan bersalaman secara bergiliran kepada dosen yang murah senyum itu. “baca
tasbih 300x
dalam rukuk dulu 150 kali, dan baca tasbih dalam sujud 150 kali,”
perintahnya kepada lima mahasiswa itu. Seorang mahasiswa bernama Faizin pun langsung bergegas menuju ke
arah sebelah utara di pojok depan dekat skalar listrik. Di
sebelah selatannya ada Hisyam dan Irfan. Di depan mereka bertiga pun ada Hakim
yang memimpin rukuk dan sujud. Walau sebenarnya itu bukan shalat benaran.
Handika yang berada di sebelah utara Hakim, tepat di depan Faizin,
Hisyam dan Irfan. Sekitar beberapa menit berlalu kemudian,
mereka telah selesai merampungkan hukumannya dan langsung mencari tempat duduk dengan suara agak gaduh.
Dijelaskan kembali oleh bapak yang luar
biasa ini bahwa John Kralik menulis surat kepada dokter yang sudah merawatnya
sekian tahun yang lalu. Dalam suratnya dia menyatakan,
“Andaikan tidak Engkau tangani penyakit saya, maka saya sudah tidak bisa
menulis surat ini. Terima kasih.” Cerita dengan nada agak penasaran “Kira-kira dokternya senang tidaak?,” tanya
Prof Ali kepada mahasiswa. “Senang,” jawab teman-teman seisi kelas dengan serontak.
Dokternya itu membalas dengan surat yang jauh lebih bagus dari sebelumnya itu.
Ia pun menulis dalam suratnya, “Ini adalah pasien saya pertama kali
sepanjang karir yang memberikan apresiasi ucapan seperti ini.”
“Dokternya tadi kira-kira senang tidak? Dapat ucapan terima kasih tadi?,”
tanyanya kepada Zein, salah seorang teman baikku. Beliau pun menjelaskan sambil
mundur ke belakang menuju meja dan kursi dosen. Menurutnya, jika dokternya itu
senang, berarti jika kita nulis sebenarnya untuk menyenangkan orang lain.
Maju sedikit demi sedikit dari tempat sebelumya sambil meletakkan kedua
ibu jarinya pada saku celana hitam yang dipakainya saat itu juga. Berhenti sejenak sambil
merenung. “Saya berprinsip bahwa senyum manusia adalah senyum Tuhan,” katanya
sambil menatap seluruh mahasiswa. Diputarlah
badannya ke arah kanan dan mendekati Nitra, “Kamu sakit ya?.” Tanyanya kepada ninit nama
sapaannya. Tapi si ninit masih terdiam sambil tersenyem sedikit agak ragu untuk
menjawabnya. Prof bertanya lagi kepadanya, “sakit apa kamu?”, “Sakit lambung Prof,” jawabnya sambil menatap beliau dengan
suara yang gemetar. Ditanya lagi ninit apakah sudah ke dokter dan ungkapnya
sudah tapi kondisi saat ini masih belum sembuh total. Bapaknya pun tersenyum sambil ber
kata, “penyakit lambung tidak bisa disembuhkan seumur hidup. Hanya saja bisa dicegah,” jelasnya sambil melambaikan
tangannya seakan-akan seperti memotong irisan tahu.
Langkah demi langkah disusuri
kaki pun melangkahkan dengan pelan-pelan ke kanan dan kekiri, sambil
bercerita bahwa beberapa jam sebelumnya beliau periksa gigi di salah satu rumah
sakit di wilaya
Surabaya. ketika si gigi dicabut
dan darahpun keluar keluar bercucuran. Akan tetapi dokter
katholik perempuan
itu tidak langsung membersihkan. Ia pun
bilang
kepada beliau, “Bapak ini pikirannya lagi stress ya?.” tanyanya “Kok tau bu,”
jawab Prof Ali. “darah kalau orang stress rata-rata seperti ini, saya itu
nangani pasien sudah seperti
ini sudah berpuluh-puluh tahun pak,” cerita dokter tadi
kepadanya. Prof Ali pun berjalan ke belakang dengan
pandangannya yang masih tertuju kepada mahasiswa. Pada saat
itu beliau duduk dengan menghadapkan wajahnya agak miring. Dikatakan kepada
dokternya tadi, “Sebentar dok saya mau menenangkan pikiran.” terfikirlah dalam
otak ini bahwa beliau adalah seorang trainer yang biasanya sering
mengajari orang tawakkal, sedangkan beliau sendiri belum bisa melakukannya. Membolak-balikkan
tubuhnya dan menghadap ke kiri serta dikatakan bahwa sejak kecil beliau memang
takut suntik apalagi ketika dicabut giginya. Cerita beliau ketika sedang memikirkan
hal tersebut.
Seketika itu beliau berdoa, “Ya Allah, gak papa gigi saya dicabut.
Asalkan ketika saya memenjamkan mata. Engkau datangkan rasulmu untuk memandang
wajahku,” tirunya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang bagian
belakang. Setelah
selesai membaca doa itu saat giginya dicabut kembali. Sembari beliau berguman “Gak papa dicabut, saya pasrah kepada-Mu,” tambah doanya.
Anehnya, ketika darah
yang keluar saat itu sudah berubah warna tidak seperti sebelumnya. Sang dokter pun berkata bahwa darahnya ini bukan
darahnya orang stress
tapi dara orang happy. Beliau pun menyimpulkan bahwa sedikit
saja kesedihan itu dapat mempengaruhi darah kita.

“ingatlah
jasa orang sekecil apapun dan lupakanlah jasa orang sebesar apapun.” Dengan
beberapa kali bapak yang mengenakan kemeja panjang rapi mengungkapkan kalimat
tersebut. Kalimat itu adalah sebuah arti dari laingsakartum laa ajidannakum Sambil
mengingat-ngingatnya kendati beliau memiliki sebuah pengalaman yang sangat
berkesan dan sulit untuk dilupakannya. “Salah satu moto
kebanyakan orang Indonesia adalah pelit penghargaan,” jelasnya sambil memegang
wajah bagian kirinya dengan tangan kiri serta memasukkan ibu jari pada tangan
kanan ke dalam saku celanannya. Beliau pun menceritakan bahwa
dulu hidup di lingkungan santri, yang mengajar di SMA Kristen kupang. Lalu
mengajar di SMA PGRI yang terkenal dengan kenal]kalan siswa-siswinya. Sudah
menjadi kebiasan jika ada anak wanita yang ditemani oleh siswa pria banyak dan
hal-hal amoral lainnya. Tidak ada guru yang mampu bertahan mungkin hanya
setahun. Sedangkan Prof Ali mampu bertahan hingga 7 tahun lamanya. Hal itu lah
yang menjadikan beliau menjadi guru Bahasa Inggris yang aturannya lulusan IAIN
(UIN SA sekarang) tidak boleh mengajar. Saat mengajar
di sekolahan SMA PGRI yang bertepatan di daerah wonokromo ini beliau belum
menikah. Selang beberapa waktu beliau akhirnya menikah dan mengatak bahwasannya
orang yang pertama kali mengucapkan selamat kepada saya adalah orang SMA PGRI
tersebut.
Hatinya
pun gembira sekali, sungguh luar biasa orang SMA PGRI ini memberikan
penghormatan kepada saya. Padahal teman sesama umat islam saja tak seperti apa
yang saya bayangkan ini. Beliau pun semakin terkagum-kagum melihat kebaikan
orang SMA PGRI kepadanya. Disaat istri bapak yang memakai kaca mata hitam yang
berbalut agak coklat karena warnanya terlihat mulai pudar itu melahirkan. Orang
SMA PGRI itu lagi yang pertama kali mengucapkan selamat atas kelahiran anak
saya yang pertama kali. Subehanallah, begitu hormatnya orang SMA PGRI kepada
agama lain. Disinilah bapak penulis buku 60 menit terapi sholat bahagai sambil
mengingat-ngingat peristiwa bertahun-tahun yang dulu lamanya.
Dengan
tersenyum dan sedikit haru karena bahagia beliau mengungkapkan hal ini. Bapak
separuh baya ini melangkah maju kedepan dan menatap ke pada mahasiswanya yang
semuanya pada asik menulis dan beliau pun berseru kepada mahasiswa “saya
belajar terima kasih dari mereka-mereka yang selalu menghormati saya dan
mengucapkan terima kasih kepada saya”. Seumur seumur hidup bahwasannya
pelajaran yang paling berharga adalah mengucapkan terima kasih kepada
orang yang ada didekat kita maupun ada juga yang jauh dari sini.
Disela-sela
ceritanya bapak ber sepatu mengkilat bagaikan komandan tentara yang selalu
terlihat rapi jika beliau memakainya menjelaskan bahwasannya konsep sebuah
kesuksesan itu juga terdapat di dalam ketika melaksanakan sholat. Konsep terima
kasih yang terutama. Beliau beranjak dari tempat awalnya yang berdiri didepan
mahasiswa lalu melangkah agak kekiri dan mulai bertanyaka kepada maha siswanya
satu persatu diantaranya ada baiti, mahabbah, dan masih banyak mahasiswa yang
disebutnya. “apakah ada yang tau konsep terima kasih yang terdapat di sholat
kita ini?”. Tanyanya professor ini kepada mereka. Tak ada seorang pun menjawab
pertanyaan dari beliau. Celetukan terdengar samsuri mahasiswa yang paling alay
cukup untuk terdengar seisi kelas yang berdia meter sekitar 6x7 m
“Alahmdulillah,….”. sembari beliau membenarkan pernyataan samsuri dan juga
menjelaskan bahwasannya harus membaca basmallah baru alfatikha. “alfatihah
tidak tujuh itu tidak sah”. Ungkap beliau dengan menyakinkan kepada anak-anak
seisi kelas. Menyuruh kepada mahasiswanya untuk membacakan surat al fatihah
menggunakan basmalah. “ilham coba bacakan surat al fatikhah menggunakan
bismillah?”. Ujarnya kepada salah seorang mahasiswa yang duduk di deretan numer
empat dari depan. Ilhampun membacakan dengan pelahan-lahan dan dengan suara
yang agak ragu-ragu tidak yakin kan dengan bacaan yang dibacakan kepada prof.
apakah karena di dengar oleh seisi kelas jadi bacaannya jadi ragu. Gumanku,
mungkin bisa terjadi seperti itu. Efek nervous saja bisa bikin dia tidak pede
dan yakin dengan bacaannya.

Dengan
tangannya juga menghitung bapak yang perna tiga kali berpidato di Taiwan ini
menjuk seorang mahasiswi untuk membacakan surat alfatihah tanpa membaca
basmalah. Dibacalah surat alfatihah tersebut. Tanpa menggunakan basmalah,
dihitungnya oleh beliau dengan sembari menggerakkan tanggan-tangannya yang
lentik. Hasil akhirnya pun tetap tujuh ayat. Letak perbedaannya yakni jika
menggunakan basmalah ayat terakhir bacanya di sambung jika tanpa basmalah ayat
terakhirnya bacanya diputus ayatnya. Di situlah letak perbedaannya, akan tetapi
sama-sama diperbolehkan dan sah untuk digunakaan saat sholat. “istri yang bahagia
itu memiliki pribadi yang baik, sebaliknya jika istri yang tidak bahagia itu
memiliki pribadi yang tidak baik”. Celetuk penulis buku ilmu pidato ini.
Bapak
yang menjabat sebagai wakit MUI ini mengatakan lagi bahwasannya beliau ini
hidup dan dibesarkan dilingkungan pesantren. Mengajar di sebuah SMA yang
terletak di daerah wonokromo merupakan suatu cobaan yang sangat menantang
sekali bagi beliau. Dimana anak didiknya ini sangat nakal sekali, sesekali
muridnya disaat jam kosong ada saja yang membuat gaduh di dalam kelas. Ada yang
loncat-loncat di atas bangku, ada juga murid cowok yang suka jailin murid cewek
dengan menarik-narik roknya. Dengan keadaan seperti itu semua, beliau merasa
mempunyai tantangna yang sangat berat. Akan tetapi beliau sadar, dengan tantangan
anak muridnya yang seperti ini pasti ada kesuksesan.
Mengajar
selama tujuh tahun itu cukuplah lama bagi pemula yang baru saja mengajar. Akan
tetapi tujuh tahun mengajar di SMA tersebut itu sesuatu. Karena guru yang
mengajar di situ hanya bertahan paling lama itu sekitar 3 bulan tidak lebih,
melihat anak didiknya yang sangatlah nakal dan hiperaktif bahasa aktifnya
seperti itu. Diaat ada pemeriksaan dari diknas beliau ditanya “bukannya lulusan
IAIN tidak diperbolehkan mengajar bahasa inggris?”. Jawab beliau dengan tegas:”
iya memang, tapi disini semua guru lulusan dari selain IAIN tidak betah untuk
mengajar disini. Paling lama mungkin 3 bulan saja. Mungkin karena guru bahasa
inggrisnya pada pintar semua membuat murid-murid itu bosan dengan apa yang di
sampaikannya, jika saya lulusan dari IAIN kan sama-sama belajar dan materi yang
saya berikan sesuai keinginannya dengan murid-murid disini”. Dengan banyak
alasan-alasan yang di paparkan oleh beliau kepada petugas dinas yang sedang
mengecek guru-guru di SMA daerah wonokromo ini.
“semakin
santri semakin tidak menghargai orang lain”. Ungkapan kalimat ini menjelaskan
bahwasannya jika orang itu semakin santri semakin banyak ilmu agama yang
didapatnya maka semakin menjadi orang tersebut malah semakin tidak bisa
menghormati keberadaan orang lain. Dicontohkan oleh prof sendiri bahwasannya
dilihat dari perbedaan penghormataan ketika prof Ali ini di tugaskan di
Jakarta. Penyambutan dari warga SMA wonokromo ini yang sekolah Kristen
menghormati perpisahan dengan mengadakan upacara perpisahaan secara khitmad dan
berdoa untuk keselamatan beliau saat bertugas di Jakarta. Lalu dikecutkan lagi
dengan pemberian cicin, orang-orang di SMA PGRI ini tidak tau bahwasannya
seorang laki-laki memakai perhiasan tidak boleh. Tak lama kemudian beliau
diajak di sebuah tempat yakni di Tunjungan Plasa lantai 10 untuk merayakan
perpisahannya. Hal ini bertolak belakang sekali dengan perilaku di IAIN. padahal
banyak yang tahu jika beliau akan bertugas ke Jakarta, tapi tak di sangka tak ada
satu pun yang menanyakan kepergian beliau dan member penghormatan sama sekali
kepada beliau yang akan brtugas ke Jakarta. Di situlah letak perbedaan etika
seseorang yang semakin santri semakin pula tidak bisa menghargai orang lain.
Alhamdulillah
yakni selalu berterima kasih setiap melakukan apapun dan dimana pu kita berada.
Karena pesan Allah sebagai pribadi yang baik itu banyak mengucapkan terimah
kasih dan kesuksesan kita juga berwal bagamana kita selalu mensyukuri nikmat
allah yang setiap hari diberikan kepada kita. Yang sampai sekarang ini bisa
bernafas dan melihat keindahan alam jagat raya.