Rabu, 01 April 2015

keunikan diDalam Kelas

Peristiwa ini terjadi pada berawal pada saat saya membuka pintu kelas yang berbalut dekorasi kayu coklat lalu masuk kedalam ruang kelas yang hanya diterangi 2 lampu menyala dan 2 lampu lagi mati di bantu sumber penerangan cahaya matahari agak memudar remang-remang karena situasi yang menjelang sore. Kemudian saya mendapati teman laki-laki yang sedang sujud. Pikirku “mungkin dia belum sholat dhuhur, mangkanya disuruh sholat dhuhur dikelas sama pak prof.” akan tetapi nyatanya zonk. Dengan tergesah-gesah masuk kedalam kelas karena dosen saya yang begitu lemah lembut dan penuh perhatian, beliau sudah datang tepat dengan waktunya yakni pukul 12.20 WIB tepatnya seperti itu. Tak di sangkanya bapak dosen separuh baya itu berkata,”silahkan sujud syukur dan membaca tasbih agar saya tidak marah.” Dalam hati bergitu terkejutnya saya dan teman saya berkerudungan hijau cantik ber kulit sawo matang mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut sang prof yang hebat itu.
Pikirku pun mulai kemana-mana antara marah dan menyesal, campur aduklah. Ada perasaan yang berguman, “Ada apa dengan pak prof???.” terus bertanya-tanya tidak jelas dan juga perasaan berfikir lain, “mungkin ini hukuman saya telat masuk kelas!” akan tetapi pikiran ini masih terasa jagal dan gegana (Gelisa Galau Merana) bagaikan makan krupuk tanpa minum air, serat rasanya pikiran ini (bisa anda bayangkan). Setelah saya beranjak menaruh tas ransel hijau saya yang saya tompang dibahu saya lalu saya lepaskan dengan pelahan kemudian saya taruh di bangku coklat kusam di deretan nomer tiga dari depan, lalu langsung saja saya berjalan dan beranjak kedepan dengan menghadap kiblat. Setelah itu saya jongkok dan melepas sepatu unik yang saya kenakan dengan bermotif pita lucu, sorotan pandangan pertama matakupun langsung tertujuh pada lantai kelas yang berbentuk segi empat berukuran 6 x 6 yang penuh dengan debu pasir yang berserakan akibat terbawah oleh sepatu anak-anak yang masuk kelas sebelum mata kulia pak prof ali Aziz. Batin pun mulai berkata, “gimana sujudnya kalau masih banyak pasir kayak gini??.” dengan heningan beberapa detik saja tak ku hiraukan debu pasir yang ada dilantai keramik putih suci bagaikan masjid imajinasiku berfikir seperti itu. Batinku berkata lain lagi, “ ini hukuman, lakukan saja, kalau guru yang menyuruh pasti ada hikma dibalik itu semua.”
Dengan kesabaran dan penuh kegigihan saya pun sujud dengan membaca kalimat tasbih “subhanallah,….” Sampai 100 kali banyaknya. Akan tetapi pikiranpun mendadak berkehendak lain di saat sujud dan membaca kalimat tasbih pikiranpun rasanya melayang-layang seperti layangan yang sering di mainkan anak kecil di perdesaan dengan terbawah arus angin terayun kemana-mana sampai hitungan kalimat tasbih melebihi dari 250 kali kiranya. Suasana bisingnya kelaspun mulai tersa,” kreeeeek…kreeeeeek…..klek..” suara anak-anak membuka dan menutup pintu kelas. “brak.. brokk.. brakk… brokk…” suara langkah kaki saat anak-anak mulai masuk kedalam ruangan kelas yang panas karena AC yang ada di dalam kelas hanya satu buah dinginnya yang bersuhu hanya 35derajad cercius saja. Kemudian bapak separuh baya itupun juga menyuruh anak-anak yang lainnya melakukan  hal seperti apa yang saya lakukan, akan tetapi hukumannya bertambah lebih banyak dari apa yang sudah saya lakukan.
Dari 100 kali menjadi 150 kali, ada juga yang 200 kali, dan terakhir itu 250 kali. Subhanallah, Mulia sekali hukuman ini. Jarang-jarang orang bertasbih sebanyak ini yang ada di dalam kelas Tehnik Khitobah 2 dan juga tak di sangka ada yang sujud syukur menggunakan sepatu. Rekor pertama, bagi teman-teman yang sujud syukur menggunakan sepatu. Karena selama ini kalau sholatkan tanpa sepatu, senyumku pun mulai mengembah dan tertawa hampir terbahak-bahak melihat hal seperti ini baru pertama kali seumur hidup yang saya ketahui. Subhanallah unik sekali bukan, inilah kuasa Allah yang tak terduga dan tidak disangka sekali, sangatlah mengejutkan bagi seisi ruang kelas DI.211.
Sayapun mulai beranjak dari lantai kelas yang masih kotor penuh dengan debuh pasir sambil membersihkan dahi dan baju saya yang terkenah debu pasir dengan melangkahkan kakiku ke kursi kayu yang gagah seperti atlet lari. Lalu dengan mengangkat tas ransel hijau saya kupindahkan disamping kemudian saya duduk dan masih terteguh melihat kedepan dan seisi kelas yang terdiam sejenak tanpa kata-kata keluar dari mulut teman-teman. Bapak dosen yang perna menjadi sarjana tercepat dan termudah di FDIK UIN Sunan Ampel Surabaya (1982) ini, membagikan kertas foto copy yang berukuran legal kepada anak-anak yang perkertas untuk dua orang anak karena kertas foto copy yang dibagikan hanya 10 lembar kertas, seisi kelas berjumlah 18 ank. Amat tidak memungkinkan sekali kalau satu anak dibagikan kertas fotocopy satu-satu. Lalu bapak kelahiran soko-Glagah-Lamongan Jawa Timur ini menjelaskan dengan perlahan-lahan seisi kertas fotocopy yang berjudu “PEDOMAN PENULISAN PERISTIWA” yang sebelumnya digunakan oleh Prof Ali aziz untuk pelatihan guru SD Kyai Ibrahim Surabaya.  Satu persatu bapak yang mempunyai beberapa karya tulis diantaranya buku Solusi Ibadah di Taiwan (Taipe) menjelaskan cara penulisan yang mudah dan mudah untuk dipahami. Yakni, 5W+1H berawal dari What = Apa? Dibacaan ini bapak yang berkemeja putih ini memulai menjelaskan dan membacakan, “what = apa?, apa yang terjadi? Gunakan judul yang singkat dan menarik.” Ujarnya Prof Ali Aziz. Dibagian ini bapak beranak tujuh menjelaskan bahwasannya memakai judul itu yang menarik tidak perlu panjang lebar dan bertele-tele yang tidak mudah dipahami orang.
Terpenting Judul yang singkat dan menarik perhatian si pembaca. Dengan penuh perhatian bapak wakil ketua MUI jatim menjelaskan kepada anak-anak sampai paham dan mengerti. Suasana kelas menjadi ramai kembali karena bapak dosen berjanggut putih ini mulai mempersilahkan untuk bertanyak kepada yang belum jelas dengan penyampaian tadi. Detik demi detik, jam pun mulai berlalu beliaupun mulai menyuruh untuk menulis dengan menggunakan cara yang sudah dituliskan di dalam kertas dan dijelaskan sama beliau. “kalian semua itu bisa menulis. Tidak ada yang bisa menuli.” Ujarnya sambil melihat kea rah anak-anak. Kemudian beliau berbicara kepada salah satu teman saya yang orangnya ini pandai berbicara. Beliau berkata, “coba bacakan tulisanmu!.” Suruhnya kepada teman-teman dengan nada yang agak rendah yang hanya bisa didengar oleh temen yang duduk disampingnya berjilbab merah. Prof Ali Aziz langsung menyahutinya,” bagus gitu tulisanmu, siapa bilang kamu tidak bisa menulis.”

Dengan penuh semangat anak berkerudung biru itu melanjutkan tulisannya penuh keyakinan. Hati ini selalu berkata,” subhanallah,… dosen yang super segalanya. Selalu member motivasi dan membuat pandai mahasiswanya.” Sungguh luar biasa kuasa Allah ini dikelas yang dingin dan seisi kelas mulai berkonsentrasi untuk menyusun kata-kata yang belum perna mereka tuliskan di atas kertas putih bersih. Sedikit demi sedikit mereka menjalankan bolpoin bertinta hitam bermerek pilot dan menggoreskan diatas kertas yang diletakan dibangku berkayu coklat dibaluti dengan cat plamir coklat mengkilau. Semakin lama cahaya matahari dari luar semakin redup. Tak lama kemudian berjarak 10 menit bapak berpakaian rapi ini memecahkan suasana kelas yang hening dengan kalimat motivasi kepada anak-anak seisinya yang berjumlah 18 orang. Lalu bapak yang teladan dan ulet ini menyudahi mata kulia Tehnik Khitobah 2 ini dengan doa.

11 komentar:

silahkan komen dan kritik saran untuk pembelajaran