Peristiwa ini terjadi pada berawal pada saat saya membuka pintu
kelas yang berbalut dekorasi kayu coklat lalu masuk kedalam ruang kelas yang
hanya diterangi 2 lampu menyala dan 2 lampu lagi mati di bantu sumber
penerangan cahaya matahari agak memudar remang-remang karena situasi yang
menjelang sore. Kemudian saya mendapati teman laki-laki yang sedang sujud. Pikirku
“mungkin dia belum sholat dhuhur, mangkanya disuruh sholat dhuhur dikelas sama
pak prof.” akan tetapi nyatanya zonk. Dengan tergesah-gesah masuk kedalam kelas
karena dosen saya yang begitu lemah lembut dan penuh perhatian, beliau sudah
datang tepat dengan waktunya yakni pukul 12.20 WIB tepatnya seperti itu. Tak di
sangkanya bapak dosen separuh baya itu berkata,”silahkan sujud syukur dan
membaca tasbih agar saya tidak marah.” Dalam hati bergitu terkejutnya saya dan
teman saya berkerudungan hijau cantik ber kulit sawo matang mendengar kalimat
tersebut keluar dari mulut sang prof yang hebat itu.
Pikirku pun mulai kemana-mana antara marah dan menyesal, campur
aduklah. Ada perasaan yang berguman, “Ada apa dengan pak prof???.” terus
bertanya-tanya tidak jelas dan juga perasaan berfikir lain, “mungkin ini hukuman
saya telat masuk kelas!” akan tetapi pikiran ini masih terasa jagal dan gegana
(Gelisa Galau Merana) bagaikan makan krupuk tanpa minum air, serat rasanya
pikiran ini (bisa anda bayangkan). Setelah saya beranjak menaruh tas ransel
hijau saya yang saya tompang dibahu saya lalu saya lepaskan dengan pelahan
kemudian saya taruh di bangku coklat kusam di deretan nomer tiga dari depan,
lalu langsung saja saya berjalan dan beranjak kedepan dengan menghadap kiblat. Setelah
itu saya jongkok dan melepas sepatu unik yang saya kenakan dengan bermotif pita
lucu, sorotan pandangan pertama matakupun langsung tertujuh pada lantai kelas
yang berbentuk segi empat berukuran 6 x 6 yang penuh dengan debu pasir yang
berserakan akibat terbawah oleh sepatu anak-anak yang masuk kelas sebelum mata
kulia pak prof ali Aziz. Batin pun mulai berkata, “gimana sujudnya kalau masih
banyak pasir kayak gini??.” dengan heningan beberapa detik saja tak ku hiraukan
debu pasir yang ada dilantai keramik putih suci bagaikan masjid imajinasiku
berfikir seperti itu. Batinku berkata lain lagi, “ ini hukuman, lakukan saja,
kalau guru yang menyuruh pasti ada hikma dibalik itu semua.”
Dengan kesabaran dan penuh kegigihan saya pun sujud dengan membaca
kalimat tasbih “subhanallah,….” Sampai 100 kali banyaknya. Akan tetapi
pikiranpun mendadak berkehendak lain di saat sujud dan membaca kalimat tasbih pikiranpun
rasanya melayang-layang seperti layangan yang sering di mainkan anak kecil di
perdesaan dengan terbawah arus angin terayun kemana-mana sampai hitungan kalimat
tasbih melebihi dari 250 kali kiranya. Suasana bisingnya kelaspun mulai tersa,”
kreeeeek…kreeeeeek…..klek..” suara anak-anak membuka dan menutup pintu kelas. “brak..
brokk.. brakk… brokk…” suara langkah kaki saat anak-anak mulai masuk kedalam
ruangan kelas yang panas karena AC yang ada di dalam kelas hanya satu buah
dinginnya yang bersuhu hanya 35derajad cercius saja. Kemudian bapak separuh
baya itupun juga menyuruh anak-anak yang lainnya melakukan hal seperti apa yang saya lakukan, akan tetapi
hukumannya bertambah lebih banyak dari apa yang sudah saya lakukan.
Dari 100 kali menjadi 150 kali, ada juga yang 200 kali, dan
terakhir itu 250 kali. Subhanallah, Mulia sekali hukuman ini. Jarang-jarang
orang bertasbih sebanyak ini yang ada di dalam kelas Tehnik Khitobah 2 dan juga
tak di sangka ada yang sujud syukur menggunakan sepatu. Rekor pertama, bagi
teman-teman yang sujud syukur menggunakan sepatu. Karena selama ini kalau
sholatkan tanpa sepatu, senyumku pun mulai mengembah dan tertawa hampir
terbahak-bahak melihat hal seperti ini baru pertama kali seumur hidup yang saya
ketahui. Subhanallah unik sekali bukan, inilah kuasa Allah yang tak terduga dan
tidak disangka sekali, sangatlah mengejutkan bagi seisi ruang kelas DI.211.
Sayapun mulai beranjak dari lantai kelas yang masih kotor penuh
dengan debuh pasir sambil membersihkan dahi dan baju saya yang terkenah debu
pasir dengan melangkahkan kakiku ke kursi kayu yang gagah seperti atlet lari. Lalu
dengan mengangkat tas ransel hijau saya kupindahkan disamping kemudian saya
duduk dan masih terteguh melihat kedepan dan seisi kelas yang terdiam sejenak
tanpa kata-kata keluar dari mulut teman-teman. Bapak dosen yang perna menjadi
sarjana tercepat dan termudah di FDIK UIN Sunan Ampel Surabaya (1982) ini,
membagikan kertas foto copy yang berukuran legal kepada anak-anak yang
perkertas untuk dua orang anak karena kertas foto copy yang dibagikan hanya 10 lembar
kertas, seisi kelas berjumlah 18 ank. Amat tidak memungkinkan sekali kalau satu
anak dibagikan kertas fotocopy satu-satu. Lalu bapak kelahiran soko-Glagah-Lamongan
Jawa Timur ini menjelaskan dengan perlahan-lahan seisi kertas fotocopy yang
berjudu “PEDOMAN PENULISAN PERISTIWA” yang sebelumnya digunakan oleh Prof Ali
aziz untuk pelatihan guru SD Kyai Ibrahim Surabaya. Satu persatu bapak yang mempunyai beberapa
karya tulis diantaranya buku Solusi Ibadah di Taiwan (Taipe) menjelaskan
cara penulisan yang mudah dan mudah untuk dipahami. Yakni, 5W+1H berawal dari
What = Apa? Dibacaan ini bapak yang berkemeja putih ini memulai menjelaskan dan
membacakan, “what = apa?, apa yang terjadi? Gunakan judul yang singkat dan
menarik.” Ujarnya Prof Ali Aziz. Dibagian ini bapak beranak tujuh menjelaskan
bahwasannya memakai judul itu yang menarik tidak perlu panjang lebar dan bertele-tele
yang tidak mudah dipahami orang.
Terpenting Judul yang singkat dan menarik perhatian si pembaca. Dengan
penuh perhatian bapak wakil ketua MUI jatim menjelaskan kepada anak-anak sampai
paham dan mengerti. Suasana kelas menjadi ramai kembali karena bapak dosen
berjanggut putih ini mulai mempersilahkan untuk bertanyak kepada yang belum
jelas dengan penyampaian tadi. Detik demi detik, jam pun mulai berlalu
beliaupun mulai menyuruh untuk menulis dengan menggunakan cara yang sudah
dituliskan di dalam kertas dan dijelaskan sama beliau. “kalian semua itu bisa
menulis. Tidak ada yang bisa menuli.” Ujarnya sambil melihat kea rah anak-anak.
Kemudian beliau berbicara kepada salah satu teman saya yang orangnya ini pandai
berbicara. Beliau berkata, “coba bacakan tulisanmu!.” Suruhnya kepada
teman-teman dengan nada yang agak rendah yang hanya bisa didengar oleh temen
yang duduk disampingnya berjilbab merah. Prof Ali Aziz langsung menyahutinya,”
bagus gitu tulisanmu, siapa bilang kamu tidak bisa menulis.”
Dengan penuh semangat anak berkerudung biru itu melanjutkan
tulisannya penuh keyakinan. Hati ini selalu berkata,” subhanallah,… dosen yang super
segalanya. Selalu member motivasi dan membuat pandai mahasiswanya.” Sungguh luar
biasa kuasa Allah ini dikelas yang dingin dan seisi kelas mulai berkonsentrasi
untuk menyusun kata-kata yang belum perna mereka tuliskan di atas kertas putih
bersih. Sedikit demi sedikit mereka menjalankan bolpoin bertinta hitam bermerek
pilot dan menggoreskan diatas kertas yang diletakan dibangku berkayu coklat
dibaluti dengan cat plamir coklat mengkilau. Semakin lama cahaya matahari dari
luar semakin redup. Tak lama kemudian berjarak 10 menit bapak berpakaian rapi
ini memecahkan suasana kelas yang hening dengan kalimat motivasi kepada
anak-anak seisinya yang berjumlah 18 orang. Lalu bapak yang teladan dan ulet
ini menyudahi mata kulia Tehnik Khitobah 2 ini dengan doa.
lantai berdebu tak meghalangi kita untuk bertasbih kepada Allah
BalasHapussubhanallah,..
BalasHapussubhanallah,.... unik sekali,..
BalasHapusijin share>>>
cerita yang mengesankan,...
BalasHapushukuman yang mengesankan
BalasHapushawa kelasnya yang menyumberkan keunikan dek,..
BalasHapushukuman bisa menjadi kenangan yg luar biasa
BalasHapusijin share yaw??
BalasHapusternyata saudari bisa nulis juga..keren
BalasHapuslanjutkan menulisnya
BalasHapusgood.. :)
BalasHapus