Senin, 30 Maret 2015

PERAN PENTING ORANG TUA DALAM KEBERHASILAN ANAK (AQIQAH




اَلحَمدُ اللهَ رَبِّ العَا لَمِينِ اَشهَدُ اَن لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ المَلِكُ الحَقُّ المُبِينَ, وَاشهَدُ اَنَّ مُحَمَّدَا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ المَبعُوثُ رَحمَةً لِلعَا لَمِينَ. اَللّهُمَ صَلِّ عَلى (سَيِدِ ) نَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحبِهِ اَجمَعِينَ. اَمَّا بَعدُ. فِيَا عِبَا دَ اللهِ, اُوصِيكُم وَاِيَّايَ بِتَقوَى اللهِ فَقَد فَازَ المُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَا لَى: ياَ اَيُّهَا الَّذِينَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَا تِهِ وَلَاتَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنتُم مُسلِمُونَ
اَ نَّ النَّاسَ يُعرَضُونَ يَومَ القِيَا مَةِ عَلَى العَقِيقَةِ كَمَ يُعرَ ضُونَ عَلَى الصَّوَتِ االخَمسِ
“sesungguhnya manusia itu pada hari kiamat akan dimintai pertanggung jawaban atas aqiqahnya seperti halnya pertanggung jawaban atas sholat lima waktu.” (H. R. muraidah dan ishaq bin ruhawiah)
Maksud dari hadist diatas yakni jika kita mampu untuk mengaqiqahkan anak kita dan jika tidak mampu makah cukurlah rabutnya saja karena perlu kita ketahui Dalam pelaksaan aqiqah ini pada dasarnya guna untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW, menjaga budaya islam dan menegakkan syari’at islam beserta membangun generasi yang rabbani. Manusia diciptakan oleh Allah denga ujian dan pilihan sampai Allah jadikan otak mereka memberikan rangsangan untuk berfikir dan menggerakkan badannya dengan stimulus-stimulus. Sebuah ayat Al-Qur’an menegaskan. (Amru Muhammad dan imam al-ghozali, 2006, hal: 153)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ (١٢)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (١٣)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (١٤)
“12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q. S. al-Mu’minun [23]: 12-14)
Keistimewaan dan kemuliaan paling besar yang di anugerahkan Allah kepada manusia adalah akal. Dengan akal manusia dapat mengerti arti keindahan dan mampu mencapai alam malaikat. Dengan akal pula dia mampu mengenal pencipta dengan cara merenungkan ciptaan-Nya. Bahkan mampu menangkap petunjuk untuk mengenal sifat-sifatnya melalui hikma dan amanah yang Allah karunia. Dengan akal dapat menjadikan keberhasilan seorang anak. Dalam hal mengenal Allah swt kedudukan manusia bertingkat-tingkat sesuai dengan cahay akal dan hidayah yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Pada dasarnya menanamkan nilai-nilai agama pada diri anak semenjak dini. Biasakan mereka datang ke tempat-tempat ibadah seperti masjid, musholah mendatangi pengajian dan bila telah memungkinkan masukkan sang buah hati ke pondok pesantren guna untuk menguatkan imannya dan lebih banyak pengetahuan tentang indahnya belajar agama islam, karena islam itu sendiri indah untuk diketahui. (Choirul Marzuki, 1998, hal: 27)
Memang biasanya ada anak yang pembawaannya sejak kecil cukup baik, namun perlu diingat bahwa untuk mempertahankan kebaikan tersebut agar senantiasa lekat dan semakin berkembang dalam kepribadiannya. Perlu kita ketahui menanamkan kepercayaan kepada anak perihal Allah itu ada serta mempercayai kerasulan Muhammad Saw dapat memberikan bantuan yang kuat dan terpercaya kepada ibu dalam memelihara kepribadian dan kesucian jiwa anak kita tercinta.
Anak merupakan nikmat, amanat dan fitnah orang tua yang dititipkan. Namun pada hakikatnya anak merupakan indivisu yang berbeda dengan siapapun, termasuk dengan kedua orang tuanya. Bahkan anak juga memiliki takdir sendiri yang belum tentu sama dengan orang tua. (Dr Mansur, 2009, hal:4) pada hakikatnya anak itu merupakan mahluk independen, sehingga orang tua tidak perlu lagy untuk memaksa kehendaknya. Biar anak tumbuh dewasa sesuai dengan suara hati nurani, karena disitu otak berfikirnya bisa berkembang dan bisa membedakan baik buruknya. Kewajiban sebagai orang tua hanya berusaha untuk anaknya agar tumbuh dewasa dan menjadi pribadi yang saleh dengan merawat, mendidiknya dengan pendidikan yang lebih bagus dan benar.
Oleh karena itu keberhasilan seorang anak dapat dilihat dan dipertimbangkan dari bagaimana orang tuanya mendidik sang anak. Karena pendidikan dari keluarga sangat berpengarus sekali. Dan fungsi edukatif ini merupakan bentuk penjagaan hak dasar manusia dalam memelihara dan mengembangkan potensi akalnya. Pendidikan anak dalam keluarga sekarang ini pada umumnya mengikuti pola keluarga tersebut. Peningkatan keberhasilan anak di lihat dari pendidikan generasi penerus berdampak pada pergeseran relasi dan peran-peran anggota keluarga. Maka dari itu terkadang teladan baik dan tugas-tugas pendidikan anak tetap menjadi tanggung jawab orang tua.
Dalam hadist di jelaskan bahwasannya: “setiap anak lahir dalam keadaan suci, orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, anatu Majusi.” (H. R. Ahmad, thabrani, dan Baihaqi)
Jadilah orang tua yang berperan peting bagi pendidikan anak, karena itu merupakan kunci keberhasilan seorang anak.



4 komentar:

silahkan komen dan kritik saran untuk pembelajaran