اَلحَمدُ اللهَ
رَبِّ العَا لَمِينِ اَشهَدُ اَن لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ المَلِكُ الحَقُّ
المُبِينَ, وَاشهَدُ اَنَّ مُحَمَّدَا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ المَبعُوثُ رَحمَةً
لِلعَا لَمِينَ. اَللّهُمَ صَلِّ عَلى (سَيِدِ ) نَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ
وَصَحبِهِ اَجمَعِينَ. اَمَّا بَعدُ. فِيَا عِبَا دَ اللهِ, اُوصِيكُم وَاِيَّايَ
بِتَقوَى اللهِ فَقَد فَازَ المُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَا لَى: ياَ اَيُّهَا
الَّذِينَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَا تِهِ وَلَاتَمُوتُنَّ اِلاَّ
وَاَنتُم مُسلِمُونَ
اَ
نَّ النَّاسَ يُعرَضُونَ يَومَ القِيَا مَةِ عَلَى العَقِيقَةِ كَمَ يُعرَ ضُونَ
عَلَى الصَّوَتِ االخَمسِ
“sesungguhnya manusia itu pada hari kiamat akan dimintai
pertanggung jawaban atas aqiqahnya seperti halnya pertanggung jawaban atas
sholat lima waktu.”
(H. R. muraidah dan ishaq bin ruhawiah)
Maksud
dari hadist diatas yakni jika kita mampu untuk mengaqiqahkan anak kita dan jika
tidak mampu makah cukurlah rabutnya saja karena perlu kita ketahui Dalam
pelaksaan aqiqah ini pada dasarnya guna untuk menghidupkan sunnah Rasulullah
SAW, menjaga budaya islam dan menegakkan syari’at islam beserta membangun
generasi yang rabbani. Manusia diciptakan oleh Allah denga ujian dan pilihan
sampai Allah jadikan otak mereka memberikan rangsangan untuk berfikir dan
menggerakkan badannya dengan stimulus-stimulus. Sebuah ayat Al-Qur’an
menegaskan. (Amru Muhammad dan imam al-ghozali, 2006, hal: 153)
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ
مِنْ طِينٍ (١٢)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (١٣)ثُمَّ
خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا
الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا
آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (١٤)
“12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. kemudian Kami jadikan
saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14.
kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling
baik.” (Q. S. al-Mu’minun [23]: 12-14)
Keistimewaan dan kemuliaan paling besar yang di anugerahkan Allah
kepada manusia adalah akal. Dengan akal manusia dapat mengerti arti keindahan
dan mampu mencapai alam malaikat. Dengan akal pula dia mampu mengenal pencipta
dengan cara merenungkan ciptaan-Nya. Bahkan mampu menangkap petunjuk untuk
mengenal sifat-sifatnya melalui hikma dan amanah yang Allah karunia. Dengan
akal dapat menjadikan keberhasilan seorang anak. Dalam hal mengenal Allah swt
kedudukan manusia bertingkat-tingkat sesuai dengan cahay akal dan hidayah yang
dianugerahkan Allah kepadanya.
Pada
dasarnya menanamkan nilai-nilai agama pada diri anak semenjak dini. Biasakan
mereka datang ke tempat-tempat ibadah seperti masjid, musholah mendatangi
pengajian dan bila telah memungkinkan masukkan sang buah hati ke pondok
pesantren guna untuk menguatkan imannya dan lebih banyak pengetahuan tentang
indahnya belajar agama islam, karena islam itu sendiri indah untuk diketahui. (Choirul
Marzuki, 1998, hal: 27)
Memang
biasanya ada anak yang pembawaannya sejak kecil cukup baik, namun perlu diingat
bahwa untuk mempertahankan kebaikan tersebut agar senantiasa lekat dan semakin
berkembang dalam kepribadiannya. Perlu kita ketahui menanamkan kepercayaan
kepada anak perihal Allah itu ada serta mempercayai kerasulan Muhammad Saw
dapat memberikan bantuan yang kuat dan terpercaya kepada ibu dalam memelihara
kepribadian dan kesucian jiwa anak kita tercinta.
Anak
merupakan nikmat, amanat dan fitnah orang tua yang dititipkan. Namun pada
hakikatnya anak merupakan indivisu yang berbeda dengan siapapun, termasuk
dengan kedua orang tuanya. Bahkan anak juga memiliki takdir sendiri yang belum
tentu sama dengan orang tua. (Dr Mansur, 2009, hal:4) pada hakikatnya
anak itu merupakan mahluk independen, sehingga orang tua tidak perlu lagy untuk
memaksa kehendaknya. Biar anak tumbuh dewasa sesuai dengan suara hati nurani,
karena disitu otak berfikirnya bisa berkembang dan bisa membedakan baik
buruknya. Kewajiban sebagai orang tua hanya berusaha untuk anaknya agar tumbuh
dewasa dan menjadi pribadi yang saleh dengan merawat, mendidiknya dengan
pendidikan yang lebih bagus dan benar.
Oleh
karena itu keberhasilan seorang anak dapat dilihat dan dipertimbangkan dari
bagaimana orang tuanya mendidik sang anak. Karena pendidikan dari keluarga
sangat berpengarus sekali. Dan fungsi edukatif ini merupakan bentuk penjagaan
hak dasar manusia dalam memelihara dan mengembangkan potensi akalnya.
Pendidikan anak dalam keluarga sekarang ini pada umumnya mengikuti pola
keluarga tersebut. Peningkatan keberhasilan anak di lihat dari pendidikan
generasi penerus berdampak pada pergeseran relasi dan peran-peran anggota
keluarga. Maka dari itu terkadang teladan baik dan tugas-tugas pendidikan anak
tetap menjadi tanggung jawab orang tua.
Dalam hadist di
jelaskan bahwasannya: “setiap anak lahir dalam keadaan suci, orang tuanyalah
yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, anatu Majusi.” (H. R. Ahmad, thabrani,
dan Baihaqi)
Jadilah orang
tua yang berperan peting bagi pendidikan anak, karena itu merupakan kunci
keberhasilan seorang anak.
subhanallah.. begitu penting peran orangtua untuk mendidik putra-putrinya. izin share ya?
BalasHapusghe silahkan mbg,..
BalasHapusOrang tua memang harus di utamkan.
BalasHapusbagussss
BalasHapus