اَلحَمدُ اللهَ رَبِّ العَا لَمِينِ اَشهَدُ اَن لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ
المَلِكُ الحَقُّ المُبِينَ, وَاشهَدُ اَنَّ مُحَمَّدَا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ
المَبعُوثُ رَحمَةً لِلعَا لَمِينَ. اَللّهُمَ صَلِّ عَلى (سَيِدِ ) نَا مُحَمَّدٍ
وَعَلى الِهِ وَصَحبِهِ اَجمَعِينَ. اَمَّا بَعدُ. فِيَا عِبَا دَ اللهِ,
اُوصِيكُم وَاِيَّايَ بِتَقوَى اللهِ فَقَد فَازَ المُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَا
لَى: ياَ اَيُّهَا الَّذِينَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَا تِهِ
وَلَاتَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنتُم مُسلِمُونَ
Assalamu’allaikum. Wr. Wb. Hamdan wa syukkrulillah.
وَالْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ
وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ
عَزِيزٌ حَكِيمٌ.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang
lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.
mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.”
Marilah
kita sebagai tetangga yang baik dan mengayomi dan memiliki ciri khas mencintai
tetangga karena Allah dan membenci karena Allah. Jika kita ingin malaikat
rahmat berkenan masuk ke dalam rumahmu, maka jalinlah hubungan terhadap orang yang
memutuskannya, karena rasulullah menjadi sosok yang menjaga hubungan keluarga.
Maksudnya bukan kebaikan di balas dengan kebaikan, akan tetapi beliau berbuat
ma’ruf di dalam keluarganya maupun di luar keluarganya. (abu huzaifah, 2001,
hal: 39)
Hadirin hadirat
yang di muliakan oleh Allah
Dalam
Al-Qur’an dijumpai beberapa kata yang mengarah pada “keluarga”. Ahlul bait disebut keluarga rumah tangga
Rasulullah SAW
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ
تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِين الزَّكَاةَ
وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ
الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
33. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu
berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan
dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul
bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.(Q. S. al-Ahzab [33]:
33)
[1215]
Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada
keperluan yang dibenarkan oleh syara'. perintah ini juga meliputi segenap
mukminat.
[1216]
Yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat
sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah
Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.
[1217]
Ahlul bait di sini, Yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah s.a.w.
wilayah kecil
adalah ahlul bait dan wilayah meluas bisa dilihat dalam alur pembagian harta
waris. Keluarga perlu di jaga (at-tahrim [66]: 6), keluarga adalah potensi
menciptakan cinta dan kasih sayang. Menurut Abu Zahra bahwa institusi keluarga
mencakup suami, istri, anak-anak dari keturunan mereka, kakek, nenek,
saudara-saudara kandung dan anak-anak mereka, dan mencakup pula saudara kakek,
nenek, paman dan bibi serta anak mereka (sepupu). Keluarga merupakan lambing
kehormatan. (mufidah ch, 2013, hal: 35)
rasulullah telah mengajarkan kepada
kita bahwasannya berhubungan baik dengan tetangga itu sangat di perlukan supaya
untuk memperelat tali silaturrahmi sesam masyarakat. Dengan diantara bentuk
menjaga hubungan baik dengan tetangga yakni mengingatkannya ketika lalai
menjalankan perinta Allah dan mengajaknya untuk taat kepada-Nya. (ibnu
jauzy, 2001, hal: 90).
Untuk memperkuat khitoba ini saya
ambil sebuah hadist yang menjelaskan mempererat dan memutuskan silaturrahim:
“man achabba
aiyubsatho lahuu fii rizqhii, wa aiyunsa-a lahuu atsarishil rochimahuu (barang
siapa yang ingin murah rezekinya dan ingin panjang umurnya, maka hendaklah
mempererat hubungan silaturrachim)” (H. R. Bukhori)
“itsnaani laa
yandzurulloohu ilaihimaa yaumal qiamat: qoothi ‘urrochimi wa jaarus su-I (dua
orang tidak dipandang Allah pada hari kiamat, 1. Orang yang memutuskan tali
silaturrahmi, 2. Tetangga yang buruk budi).” (H. R. Ad Dallami) (abdullah
asy’ariba,2003, hal: 22-23)
Oleh karena itu
maka perbanyaklah bersilaturrahmi kepada sesame mahluk Allah, karena allah akan
member murah rizki dan umur panjang. Dan jika sebaliknya Allah akan membencinya
sampai hari kiamat. Maka oleh sebab itu jadilah orang yang menjadikan amal
ma’ruf sebagai prinsip dan syiar, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah
kepada kita. Janganlah engkau halangi barakah yang akan menghampiri dirimu,
dengan masuknya para malaikat rahmat ke dalam rumahmu, doa para yang
dipanjatkan bagimu dan kebersamaannya di sisimu.
Sedikit pesan
penting yang saya sampaikan, akhirul kalam. Tsumsalamu’allaikum. Wr. Wb.
subhanallah
BalasHapusindah sekali sampai menyentuh kolbu saya
Izin share ya
BalasHapusdengan bersilahtuhrrahmi kira harus mengingatkn yg lalai misalx temn,tetangga atau saudara
BalasHapusbagaimana klo tali silahturahmi kita putus karna org" yg kita ingatkn dari kelalaiannya tdi tdk terima sehingga memutuskn tali silahturrahmi ini..
apa yg hrus kita lakukan..?? terimksih
Ijin share.
BalasHapusizin share kakk
BalasHapus